Ikhsan Abdullah : Instruksi Presiden Investasikan Dana Haji tidak Tepat, Ini Sebabnya!

Posted on

Maidany.com – Intruksi yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat melantik Anggota Badan Pelaksana Pengelola Keuangan Haji Anggito Abimanyu, di Istana Negara, Jakarta,Rabu, (26/7), terkait menginvestasikan dana haji dinilai tidak tepat. Penggunaan dana haji tidak halal jika digunakan bukan untuk keperluan haji.

(Baca juga : ISRAEL Menanti Sang DAJJAL – Bagian Pertama)

Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Ikhsan Abdullah mengatakan, dana haji merupakan uang milik umat yang disimpan di Bank pemerintah yang telah ditunjuk Kementrian Agama dengan ijab dana setoran haji. Maka, jika dipergunakan untuk keperluan di luar Urusan Penyelenggaraan Haji, tegas dia, hal itu menjadi tidak halal alias kebijakan yang melanggar hak umat yang mengamanahkan dana haji tersebut lewat bank.

“Pemerintah wajib hukumnya memperoleh izin dan persetujuan dari semua pemilik dana haji,” katanya saat dihubungi Republika.co.id, Kamis, (27/7).

Menurut Ikhsan yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch,  kenapa pemerintah harus izin umat, karena pemerintah tidak memiliki dasar pijakan untuk menggunakan dana haji untuk kepentingan lain. “Tanpa persetujuan umat pemilik dana haji tersebut, apa lagi BPKH maka hukumnya tidak halal,” ujar dia.

(Baca juga : BPKH : Sesuai Instruksi Jokowi, Rp 80 Triliun Dana Haji Siap Diinvestasikan)

Secara materiil dasar hukum pemerintah tidak boleh menggunakan dana haji ada di fiduciary yang terkodifikasi di UU No 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah. “Jadi saat umat Islam yang akan berhaji menyetor dana tersebut di bank yang ditunjuk sudah sangat jelas tertera beritanya untuk setoran dana haji,” katanya.

Terkait masalah dana haji yang tersimpan di bank, kata Ikhsan, ke depannya jika terjadi sesuatu terhadap dana tersebut maka pihak perbankan wajib bertanggung jawab. “Karena bank harus menjalankan prinsip prudensial sesuai UU Perbankan.” tegas Ikhsan.

(Visited 50 times, 1 visits today)
Loading...