Indonesia Krisis Garam, Ini Sebab dan Solusi Pemerintah

Posted on

Maidany.com – Dalam sebulan terakhir, kelangkaan garam yang terjadi tidak hanya berdampak pada kenaikan harga garam dapur, melainkan juga berimbas pada garam industri yang digunakan sebagai bahan baku, seperti produksi ikan asin dan kerajinan kulit.

Sejumlah pengusaha ikan asin di Pekalongan, Jawa Tengah, misalnya, mengaku selain harga garam yang menlonjak tinggi, mereka juga kesulitan mendapatkan garam sehingga produksi ikannya ikut turun.

“Produksi ikan asin kini anjlok hingga 70 persen. Kondisi itu dipicu langkanya pasokan ikan laut sebagai bahan utama pembuatan ikan asin dan kenaikan harga garam sehingga kami memilih berhenti berproduksi,” kata perajin ikan asin, Purwanto (49), seperti dikutip Antara, Jumat (28/7/2017).

(Baca juga : Heboh! Mendag: Izin Impor Garam Sudah Keluar)

Perlu Solusi Jangka Panjang

Dalam konteks ini, pemerintah mengindikasikan akan kembali membuka keran impor garam untuk mengatasi kelangkaan yang terjadi akibat target produksi garam 2016 tidak tercapai. Namun demikian, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim, Abdul Halim mendesak pemerintah tidak hanya berpikir jangka pendek dalam mengatasi kelangkaan garam ini.

Menurut dia, krisis garam yang terjadi saat ini tidak lepas dari buruknya kinerja pemerintah di bidang pergaraman. Hal ini, kata Halim, menjadi pangkal persoalan kelangkaan garam yang terjadi saat ini.

“Agar hal serupa tidak terulang kembali, pemerintah mesti memperbaiki kinerjanya di bidang pergaraman dan lebih mengedepankan semangat gotong-royong demi tercapainya target swasembada dan meningkatnya kesejahteraan 3 juta petambak garam di Indonesia,” ujarnya dalam rilis yang diterima Tirto, Jumat (28/7/2017).

(Baca juga : Berperang Melawan Produk Yahudi yang Beredar di Indonesia)

Karena itu, ia mendesak pemerintah untuk melakukan beberapa perbaikan agar krisis garam tidak terulang. Salah satunya, melakukan harmonisasi kebijakan pergaraman yang berdampak terhadap menurunnya produktivitas dan daya saing petambak garam dalam negeri, di antaranya Permendag No. 125 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Garam.

Selain itu, lanjut Halim, pemerintah perlu melakukan pendampingan teknis dan non-teknis, seperti permodalan, dan pelatihan berbasis teknologi peningkatan kualitas garam kepada petambak garam. Misalnya, menggunakan teknologi geomembran.

Dengan menggunakan teknologi tersebut memungkinkan proses pengkristalan garam berlangsung lebih cepat, hanya 14 hari, jauh lebih cepat dibanding pengkristalan dengan metode produksi garam tradisional yang butuh waktu sampai 30 hari.

Sumber

(Visited 59 times, 1 visits today)
Loading...