Ini Alasan Nobel Perdamaian Suu Kyi tak akan Dicabut

Posted on

Maidany.com – Pada bulan lalu terjadi bentrokan antara militan Rohingya yang menyerang puluhan pos militer. Aksi itu diklaim para pemberontak sebagai tindakan pencegahan agar militer tidak melakukan persekusi lanjutan terhadap etnis Rohingya. Hal inilah yang kemudian oleh pihak militer direspons dengan ‘operasi pembersihan’, yang menurut kelompok pembela HAM, mengakibatkan tindakan kejahatan kemanusiaan di Rakhine.

Baca juga : VIRAL! Malala Yousafzai Kritik Aung San Suu Kyi soal Krisis Rohingya

Banyak yang menyalahkan aksi diam Suu Kyi atas aksi kekejaman militernya. Sebagian mereka menilai sikap Suu Kyi saat ini bertentangan dengan sejarah politiknya yang pernah mendekam selama 15 tahun di penjara setelah memenangi pemilihan presiden pada 1988. Saat itu, Suu Kyi dijebloskan ke penjara oleh pemerintahan Junta.

Berdasarkan undang-undang pembagian kekuasaan di Myanmar, Suu Kyi kini menjabat sebagai konselor negara setelah partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi, menang mutlak pada pemilu 2015. Di bawah undang-undang, Suu Kyi tidak bisa menjadi presiden dan sebagian kekuasaan pemerintahan tetap dikontrol oleh militer.

Pemimpin de facto Myanmar sekaligus peraih hadian Nobel, Aung San Suu Kyi kini tengah berada dalam tekanan dunia internasional. Pasalnya Krisis yang terjadi di Utara Rakhine terhadap etnis Rohingya berujung pada kejahatan kemanusiaan. Tentu saja halo ini membuat Suu Kyi dalam kondisi didesak untuk menghentikan operasi militer pemerintahannya.

Saat gelombang protes menyerang Suu Kyi, termasuk dari sesama peraih Nobel, banyak pihak mempertanyakan apakah Komite Nobel akan mencabut gelar milik Suu Kyi yang diterimanya pada 1991.

Baca juga : Pria Ini Meninggal, Masyarakat TIDAK PEDULI, Tapi Akhirnya Dishalatkan Oleh Raja & Ulama

Di Jakarta, Indonesia, terjadi berbagai unjuk rasa sebagai aksi solidaritas terhadap Muslim Myanmar. Kedubes Myanmar di Jakarta pun sampai jadi sasaran anarkistis pelemparan bom molotov oleh aksi massa. Demonstran juga membakar foto Suu Kyi.  “Dunia masih diam atas pembantaian Muslim Rohingya,” kata Farida, koordinator aksi di Jakarta, dikutip New York Times, Selasa (4/9).

Aung San Suu Kyi bukanlah penerima pertama Nobel yang pernah menyulut kontroversi. Pada masa lampau, banyak aktivis menuntut Komite Nobel mencabut hadiah milik Henry Kissinger dan Barack Obama.

Pada 1994, salah seorang anggota komite pernah mundur saat penghargaan diberikan kepada Simon Peres, Yitzhak Rabin, dan Yasir Arafat. Saat itu, anggota komite, Kaare Kristiansen menyebut Arafat sebagai seorang ‘teroris’ yang dinilainya tidak pantas mendapatkan Hadiah Nobel.

Baca juga : Lagi Traveling, Wanita Cantik Ini Malah Dinikahi Kepala Suku. Begini Nasibnya Kini…

Komite Nobel, yang semua anggotanya adalah warga negara Norwegia yang dipilih oleh parlemen, tidak pernah mencabut hadiah Nobel. Dan. kata mantan anggota komite, Gunnar Stalsett, sikap yang sama juga tidak akan terjadi pada kasus Suu Kyi. “Nobel Perdamaian tidak pernah dicabut dan komite tidak akan mengutuk para penerima. Setelah keputusan dibuat dan Nobel diberikan, berakhir lah tanggung jawab komite,” kata Stalsett.

sumber

(Visited 42 times, 1 visits today)
Loading...