Inilah Pernyataan Sinis Soe Tjen, Pendiri Majalah Bhineka Terhadap Al-Qur’an dan FPI

Posted on

Maidany.com – Soe Tjen Marching begitulah nama lengkapnya. Perempuan keturunan etnis China ini merupakan Feminis sekaligus aktivis yang memperjuangkan hak-hak korban 1965 (PKI).

Pada 2010, Soe Tjen mendirikan Lembaga Bhineka, yang salah satu kegiatan utamanya adalah menerbitkan Majalah Bhinneka. Majalah ini mengungkap kritik sosial dengan berani. Soe Tjen banyak menulis artikel di berbagai surat-kabar Indonesia maupun asing, cerita pendek, dan juga membuat komposisi musik. Ia pernah memenangi beberapa kompetisi penulisan kreatif di Melbourne, Australia.

Wanita kelahiran Surabaya ini sangat getol menyuruh Pemerintah RI harus meminta maaf kepada Korban 1965 (PKI). Soe Tjen juga teramat sinis kepada FPI dan menginginkan FPI harus dibubarkan.

Berikut ini video “Soe Tjen: FPI Harus Dibubarkan” yang diunggah Amir Al Haq Mahadilla.

(Baca Juga : ANEH!! Saat Jepang Teladani Pahlawan Indonesia, Kota Jokowi Malah Bangga Pahlawan Cina)

Tak hanya itu, ternyata Soe Tjen juga pernah bikin heboh dan menjadi sorotan di facebook dengan pernyataannya bahwa Alquran Bisa Salah dan Direvisi. Dia membuat heboh setelah mengunggah tautan berita dengan judul “Pemerintah akan Revisi Terjemahan Alquran”.

Hal yang menjadi sorotan adalah, Soe Tjen Marching menulis status yang mengundang para pengikutnya untuk ikut berkomentar, mengkritik, hingga menyerang argumennya.

“Terjemahan Quran akan direvisi? Ini sih bukan barang baru. Lha, memang Kitab Suci itu bisa salah dan bisa jadi objek revisi. Yang parah, yang sudah telanjur percaya sampai ngotot dan bahkan tidak saja ngorbankan nyawa sendiri, tapi juga nyawa yang lain. Eh, tahu-tahu keliru dan ayat yang dipercaya harus direvisi, yang percaya sudah telanjur mati (sambil bawa nyawa orang lain),” begitu status yang ditulis Soe Tjen Marching.

(Baca Juga : Inilah Jawaban Akun GNPF-MUI Tentang “Negara Ini Bukan Milik Agama Tertentu Saja”)

Sontak saja, status itu mendapat beragam tanggapan. Salah satunya dari akun milik Heru Tock. Dia menulis, “Maaf status Anda justru yang dapat menimbulkan SARA dan harus direvisi, Alquran tak pernah mengalami perubahan (sejak kapan pun), mungkin penafsiran dari penerjemahan bahasa Indonesia ada yang tidak sesuai dalam kandungan Alquran yang diwahyukan kepada Nabi.”

Akun Putri Aisyiyah menulis, “Don’t judge what you don’t understand. Saya menghargai pemikiran Anda tentang genosida ’65 ataupun feminisme sebab Anda expert di bidang tersebut. Tapi, saya langsung kecewa baca statement Anda tentang hal ini.”

Pun dengan akun bernama Eko Rudi ikut menulis tanggapan. “Duh, Tante Soe Tjen Marching, sepertinya panjenengan nggak pantes deh bikin posting-an kayak gini. Yang direvisi kan bukan Alquran, tapi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia. Tentunya Tante tahu bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang dinamis, mudah menyerap istilah asing dan keragaman lokal. Coba deh dibaca ulang beritanya! Ini saya kutipkan beberapa hal penting: ‘terjemahan Alquran untuk disesuaikan dengan perkembangan bahasa dan dinamika masyarakat…. Bahasa kan berkembang dan dinamika masyarakat juga selalu ada.’ Bukankah Tante adalah orang terpelajar. Harusnya tidak melakukan hal seperti ini. Saya jadi ingat apa yang ditulis Pramoedya dalam novel Bumi Manusia: seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”

(Baca Juga : HEBOH!! Patung Naga Melilit & Mencengkeram Garuda, Diarak Pada Karnaval HUT RI Ke-72)

Sumber 1 2

(Visited 88 times, 1 visits today)
Loading...