Kecelakaan Pesawat/ Ilustrasi

Kejadian Langka!! Jet Tempur dan Pesawat Boeing Bertabrakan di Udara

Posted on

Maidany.com – Suatu kejadian langka ketika jet tempur dan pesawat boeing bertabrakan di udara. Sebuah jet tempur F-86 Sabre milik militer Jepang, bertabrakan di udara dengan pesawat komersial Boeing 727 milik Maskapai Penerbangan Nippon Airways, pada 30 Juli 1971. Sebanyak 162 penumpang dilaporkan tewas.

Pesawat Nippon Airways dengan nomor penerbangan Flight 58 sedang melakukan perjalanan dari Bandara Chitose di Hokkaido k11e Tokyo. Sebagian besar penumpang adalah anggota kelompok yang mendedikasikan diri untuk membantu korban perang.

Meski lepas landas dengan tidak lancar, pesawat Flight 58 bisa mencapai ketinggian 28 ribu kaki. Saat berlayar di atas Pegunungan Alpen Jepang, Flight 58 tiba-tiba berhadapan dengan dua jet militer.

(Baca Juga : Ternyata Keahlian Seperti Inilah yang Diperlukan Dunia Kerja Tahun 2030)

Satu jet tempur F-86 Sabre diterbangkan oleh Kapten Kuma dan satu lagi diterbangkan oleh muridnya, Sersan Yoshimi Ichikawa, yang tidak memiliki banyak jam terbang. Kedua jet tidak dilengkapi radar, sehingga tidak dapat mendeteksi kehadiran Flight 58.

Jet yang diterbangkan Sersan Ichikawa kemudian bertabrakan dengan Flight 58 dan keduanya jatuh ke pegunungan. Ichikawa berhasil selamat setelah mengeluarkan parasut, sedangkan semua penumpang Flight 58 tewas.

Dilansir dari History, Yoshimi Ichikawa dituduh melakukan pembunuhan tanpa disengaja, namun dibebaskan saat diadili.

(Baca Juga : WASPADA!!! Inilah 5 Besar Produk Yahudi yang Menyebar di Indonesia)

 

Kapal Selam Jepang Mengebom USS Indianapolis

USS Indianapolis

Pada 30 Juli 1945, kapal induk USS Indianapolis milik Amerika Serikat (AS) diledakkan oleh kapal selam Jepang dan tenggelam dalam beberapa menit di perairan Pasifik yang dipenuhi ikan hiu. Hanya 317 dari 1.196 awak di kapal tersebut yang berhasil selamat.

Sebelum tenggelam, USS Indianapolis telah berhasil menyelesaikan misi utamanya. Kapal induk ini mengirim komponen kunci bom atom ke Pulau Tinian di Pasifik Selatan, yang akan dijatuhkan sepekan kemudian di Hiroshima.

USS Indianapolis melakukan pengiriman ke Pulau Tinian pada 26 Juli 1945. Misi tersebut adalah misi rahasia dan bahkan para awak kapal tidak mengetahui muatan yang mereka bawa.

(Baca Juga : ISRAEL Menanti Sang DAJJAL)

Setelah meninggalkan Tinian, USS Indianapolis berlayar ke markas besar militer Pasifik AS di Guam. Kapal induk ini diberi perintah untuk bertemu dengan kapal perang USS Idaho di Teluk Leyte di Filipina untuk mempersiapkan invasi ke Jepang.

Tak lama setelah tengah malam pada 30 Juli, di antara Guam dan Teluk Leyte, sebuah kapal selam Jepang menembakkan bom ke USS Indianapolis hingga meledak dan tenggelam dalam waktu sekitar 12 menit. Sedikitnya 300 awak kapal terperangkap di dalamnya.

Sebanyak 900 awak lainnya masuk ke air dan dilaporkan tewas karena tenggelam, diserang hiu, dehidrasi, dan luka akibat ledakan bom. Bantuan tidak sampai ke lokasi sampai empat hari kemudian, hingga pada 2 Agustus, sebuah pesawat anti-kapal selam melakukan patroli rutin dan menemukan awak kapal yang selamat.

(Baca Juga : Bila Terus Ikut Campur, Israel Berjanji Akan Buat Indonesia Seperti Palestina)

Pada 6 Agustus 1945, AS menjatuhkan sebuah bom atom di Hiroshima, Jepang, yang menyebabkan hampir 130 ribu korban jiwa dan menghancurkan lebih dari 60 persen kota. Pada 9 Agustus, sebuah bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki, yang memakan korban jiwa hingga lebih dari 66 ribu orang.

Dilansir dari History, Komandan kapal induk USS Indianapolis, Kapten Charles McVay, diadili pada November 1945. Ia dianggap gagal membawa kapal tersebut menghindari kapal selam musuh.

McVay, satu-satunya kapten Angkatan Laut AS yang diasingkan selama perang, melakukan bunuh diri pada 1968. Banyak awak kapal yang percaya McVay telah dijadikan kambing hitam. Pada 2000, 55 tahun setelah USS Indianapolis tenggelam, Kongres AS membersihkan nama McVay.

(Baca Juga : Dijamin Bikin Anda Tercengang Setelah Tahu Indonesia Ajukan Barter Produk Ini)

 

Militer Mesir dan Siprus Terlibat Baku Tembak di Bandara Larnaca

Militer Mesir

Sedikitnya 10 personel pasukan komando Mesir tewas dalam pertempuran dengan tentara Siprus Yunani di Bandara Larnaca, Siprus, pada 30 Juli 1978. Pasukan Mesir dan pasukan Siprus terlibat baku tembak setelah terjadi aksi penyanderaan di sebuah pesawat Siprus oleh teroris.

Dilansir dari BBC, Mesir menyalahkan Siprus atas pertumpahan darah tersebut. Mesir mengatakan, pasukan khusus mereka hendak membantu menyelamatkan para sandera dan menangkap teroris.

(Baca Juga : Bikin Ngakak! Inilah 10 Jawaban Lucu dari Pertanyaan Presiden Jokowi)

Ketegangan dimulai ketika editor sebuah surat kabar terkemuka Mesir sekaligus teman Presiden Mesir Anwar Sadat, Youssef Sebai, dibunuh di Nicosia Hilton oleh dua pria bersenjata. Kedua pria yang dianggap teroris itu hendak meninggalkan Siprus dan menyandera 11 orang di dalam pesawat Cypriot Airlines.

Namun, pesawat tersebut terpaksa kembali ke Siprus setelah negara lain menolak mengizinkannya mendarat. Pemerintah Siprus mengatakan mereka mengizinkan pesawat Hercules C-130 Mesir terbang ke Larnaca, namun meminta Mesir untuk tidak banyak ikut campur.

(Baca Juga : Dahsyatnya Kaos Kaki Bolong Sang Milyarder, Simak Kisahnya)

Pasukan komando Mesir kemudian melancarkan serangan habis-habisan. Pasukan Siprus membalas serangan dengan melepaskan tembakan ke unit anti-teror Mesir sehingga terjadi pertarungan selama 50 menit antara kedua belah pihak.

Sebagian besar tentara Mesir dipaksa mencari perlindungan di sebuah pesawat kosong yang letaknya dekat dengan pesawat Hercules mereka yang hancur. Baku tembak berakhir setelah Garda Nasional Siprus mengalahkan militer Mesir membujuk mereka untuk melepaskan senjata.

(Baca Juga : Kisah Said bin Amir Al-Jumahi, Membeli Akhirat dengan Dunia)

Dua teroris yang diketahui berasal dari Palestina, berhasil dibekuk dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Presiden Sadat menuduh Siprus berkolusi dengan teroris karena hubungan baik mereka dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Presiden Siprus, Kyprianou, menawarkan rekonsiliasi dan permintaan maaf namun tetap mengatalan Siprus tidak dapat membiarkan orang Mesir bertindak sewenang-wenang.

Sumber

(Visited 55 times, 1 visits today)
Loading...