Keutamaan Memaafkan Kesalahan Orang Lain, Patut Ditiru!

Posted on

Maidany.com – Nelson Mandela, salah seorang tokoh politik Afrika Selatan, tidak lama setelah pembebasan dirinya dari masa kurungan yang menyiksa selama 27 tahun akibat politik apartheid. Kala itu Mandela berbicara di hadapan lebih dari 100.000 rakyat Afsel yang memenuhi stadion kriket di Durban, memohon agar perang saudara yang menghabisi nyawa ribuan orang Afsel dihentikan.

Sudah terlalu lama rakyat kulit hitam Afsel menjadi korban politik pecah belah yang pemerintah kulit putih praktikan. Waktu-waktu menderita yang diawali di penjara Pulau Robben sampai hari-hari terakhir di sel tahanan Victor Verster yang bagi Mandela, “Beban terdahsyat, penderitaan terdalam,” dia buang jauh-jauh demi merakit persatuan, perdamaian, dan penghapusan diskriminasi yang tengah diupayakan.

Pidatonya menegaskan rasa dendam dan saling membenci sudah sepatutnya tidak punya ruang berkembang kalau mereka mendambakan kehidupan demokrasi dan kesetaraan martabat sebagai manusia. Tanpa kemampuan memaafkan, cita-cita itu mungkin tidak pernah kejadian.

Mandela yang wafat empat tahun silam memang dikenang sebagai salah satu tokoh berpengaruh dalam isu kemanusiaan. Penghargaan Nobel perdamaian pada 1993 dan ditetapkannya 18 Juli sebagai ‘Mandela Day’ oleh Majelis Umum PBB, hanya dua dari sekian pengakuan atas dedikasinya mengusahakan penyelesaian konflik, kesetaraan gender, terjaminnya HAM, mengentaskan kemiskinan, juga keadilan sosial. Jiwa besar Mandela menjadi rujukan dalam penebaran pesan damai ke seluruh dunia.

Kemampuan memaafkan tentu bukan monopoli seorang negarawan, pemuka agama, atau kaum intelektual saja. Setiap orang sepatutnya memiliki kemampuan seperti ini, meski tidak mudah.

Mengenai keutamaan menahan amarah, Allah telah berfirman dalam Alquran:
“ ………Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)

Pada firman yang lain dikatakan “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS: As-Syuraa: 43)

Penjelasan lain mengenai keutamaan menahan amarah ini juga bisa dilihat dari hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. Bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah kekuatan itu dengan menang dalam bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan amarahnya ketika ia marah.” (HR. Imam Bukhari Muslim).

(Visited 44 times, 1 visits today)
Loading...