Kisah Ulama Murtad dan Ahli Sunnah – Bagian Kedua

Posted on

Maidany.com(Sebelumnya..) Deg! Dada sang guru terguncang. Beliau menangis. Kembali bersyahadat. Memeluk muridnya. Lantas, kembali ke majelis. Membersihkan diri. Bertobat.

Betapa dahsyat akhlak keduanya. Tak ada kemarahan, tak ada kekecewaan, tak ada caci maki, tak ada bantah membantah, apalagi fitnahan, dan tudingan. Alih-alih pembunuhan.

Guru dan muridnya menyadari manusia tempat salah dan dosa. Mereka saling mengingatkan, menyadarkan, menyentuh jiwa dan hati dengan kelembutan serta kasih sayang. Berharap muncul hidayah dari Allah.

(Baca juga : Kisah Ulama Murtad dan Ahli Sunah – Bagian Pertama)

Allah pun membalikkan hati sang ulama. Hingga akhirnya kembali mendidik murid-muridnya di majelis tersebut. Masya Allah indahnya. Malu sekali mendengar kisah itu.

Elok nian kemuliaan akhlak. Alangkah gembiranya kalau akhlak mereka bisa ditauladani para ulama, ustaz, dan aktivis dakwah di Indonesia.

Alangkah geram dan takutnya musuh-musuh Islam jika umat bersatu. Berteduh dalam satu payung bernama: ukhuwah Islamiah.

Tapi, sebaliknya. Begitu senangnya musuh-musuh Islam melihat umat terkotak. Sesama ustaz saling klaim, saling balas bantahan, lalu diikuti murid-murid dan atau jamaahnya.

Belum cukup. Tak hanya bantahan di forum terbuka, tapi juga caci maki. Tudingan bidah, sesat, kafir, musyrik dilemparkan dengan enteng: hanya lantaran beda amaliyah. Sesuatu yang telah dituntaskan para Imam Mazhab.

Klaimnya ahli sunah. Tapi akhlaknya? Hanya Allah yang mampu menilai dan menghakimi.

Oh, sayang sekali tapi. Kami terlalu taat mengikuti yang dipertontonkan. Saling tuding terlanjur mengular. Sudah merembet ke sosial media, melebar ke media massa, meluas ke kehidupan umat dan berbangsa.

Mengacak-acak ukhuwah. Merobek-robek nilai welas asih, persatuan, tepo seliro, saling memahami, saling menyayangi, saling memaklumi, yang telah dijaga para Ulama terdahulu.

Nilai-nilai substansial, kini dilupakan: Agama adalah akhlak. Hakikat malah dikubur: beragama dari dalam jiwa. Kami justru bertepuk dada baru punya hafalan ayat di luar kepala.

Kami lupa takwa itu dari hati. Lupa, menjaga ukhuwah wajib, yang lebih utama tenimbang mengaku-aku ahli sunnah, tapi merobek ukhuwah.

Lagi-lagi kami lupa: Agama adalah akhlak. Bukan klaim-klaim sepihak. Bukan bermodal hafalan ayat-ayat dan tahu hadis ini sahih, itu dhaif, yang berikutnya palsu. Padahal akhlak dulu, sebelum ilmu.

Kajian-kajian keagamaan kian ramai di layar kaca. Kami bergairah mengejar pahala dan surga. Tapi di jalan raya, kami senang saling serobot antarpengendara. Di jalan, buang sampah seenaknya.

Kajian-kajian keagamaan sehari tiga kali kami ikuti. Tapi, kami mudah mencaci. Enteng merendahkan, menghina, menuding, bahkan memfitnah. Lalu kami tak malu-malu membanggakan diri dan kelompok.

Kajian-kajian keagamaan cukup klik dari gadget, tinggal pilih tema di layar Youtube. Tapi, kami malah lihai menajamkan lidah. Membusungkan dada, menghina dina. Mudah memutus silaturahim antarsaudara.

Kami seperti Islam elektronik, beragama sudah merasa hebat, padahal hanya ngaji di Google dan layar kaca. Kami seperti melebihi para wali. Kami asyik masyuk merasa punya kunci surga.

Kajian-kajian keagamaan makin menyeruak. Kami sangat bangga guru kami terkenal dipanggil ustaz. Kemudian dalam sekejap kami bisa murka, bila orang memanggil nama tanpa embel-embel “ustaz” di depan nama guru kami. Tak sopan.

Entah kenapa kami marah bila ada yang tak sopan pada mereka. Padahal, dulu tak ada yang mengenal guru kami. Kami pun tak juga tahu, hanya mengenalnya dari media dan Youtube.

Tiba-tiba punya nama. Mencuat, melesat bak pencitraan Jokowi saat jadi media daring. Tapi, apa kiprah guru kami untuk agama dan kemerdekaan bangsa ini? Kami tak tahu pula.

Sedang kami enteng menyebut para sahabat Rasulullah tanpa hormat. Cukup panggil nama: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali. Astaghfirullah.

Kami enggan sekadar memberi penghormatan “Khalifah” atau “Sayyidina” di depan nama mereka. Penghormatan itu bid’ah bagi kami. Kecuali hormat pada guru kami.

Kajian-kajian keagamaan bak jamur. Tapi, kami tega mendiami yatim yang lapar. Membiarkan saudara yang miskin hidup telantar.

Cuek bebek pada tetangga yang kesulitan bayar tagihan listrik. Mendiami penderitaan mereka yang terjepit impitan. Membiarkan Muslim yang tercekik jerat-jerat riba.

Lantas, kami khusyuk bisnis, menumpuk harta dan hidup dalam kemewahan. Kemudian mengaku-aku sebagai paling saleh dan benar, merendahkan yang lain, sambil membacakan ayat-ayat-Nya tiap pagi dan sore.

Kajian-kajian keagamaan ramai sekali. Kami jadi rajin shalat dan mengaji. Tapi dalam shalat pun, Allah tak hadir di hati kami. Yang muncul: kerjaan, bisnis, persaingan, keduniawian.

Tak ada sabar, syukur, kasih sayang, kelembutan dalam jiwa kami. Entah ke mana mereka pergi. Kami tak takut mati, berkoar jihad dan syahid. Padahal, entah jariah apa yang akan dibawa. Kami malah takut besok tak bisa makan. Padahal, rezeki telah ditetapkan.

Kajian-kajian keagamaan makin menjamur. Tapi, ada yang masih tega membunuh bahkan membakar jasad seorang Muslim hidup-hidup. Bersorak sorai, bertepuk tangan. Menghunus nilai kemanusiaan.

Tega menciptakan anak yatim baru hanya lantaran aksesori masjid. Entah apa jadinya jika kelak, Qs al-Maun bersaksi.

Para ustaz, mohon, kembalilah. Tolong, beri tauladan pada kami praktik ukhuwah, qanaah, zuhud, itsar, mendahului kebutuhan orang lain. Bukan teori. Apalagi provokasi sini baik, sana buruk, dengan menjual ayat.

Mohon beri kami tauladan: membunuh ke-aku-an, beragama sebenarnya. Membumikan kasih sayang yang tulus. Mohon, kembalilah. Kami lelah dibelah-belah. Bantulah.

Kami tak kenal agama dalam jiwa. Hanya kenal dari rutinitas, pakaian, penampilan. Ibadah kami cuma ritual harian. Tolong, tarbiyahi jiwa kami.

Dalam jiwa kami tak ada Allah dan Nabi. Hanya ada Firaun, Namrud, Abu Jahal, dan Qabil. Kami hanya beragama dari hafalan dan tampilan. Lalu ibadah kami tonjol-tonjolkan, bukan berupaya disembunyikan.

(Baca juga : Ramalan JK TERBUKTI !!! Media-media Penyanjung JOKOWI Mulai Beritakan LESUNYA EKONOMI)

Kami sering lupa: At Taqwa ha huna, taqwa itu dalam jiwa. Bukan dari lisan dan permukaan.

Kami rindu ketauladanan menyejukan, yang terpancar dari kejernihan jiwa: hati ke hati. Bukan dari lisan pemanis kemasan, yang berbau standar ganda. Lalu memburu kepopuleran dan harta.

Allah Ya Latiffu, Ya Kahfi. Ya Hafidzu, Ya Syafi. Allah Ya Latiffu, Ya Wafi. Shalaallahu alaa Muhammad.

Tamat

Oleh : Rudi Agung – Pemerhati masalah sosial

(Visited 353 times, 1 visits today)
Loading...