Nenek Toer Dan Sajadah Kuning

Posted on

Maidany.com – Wajah Nenek Toer terlihat bahagia. Senyumnya melelebar. Bicaranyapun cukup bersemangat. Saat itu dia mendapat undangan walimatul safar dari kemenakannya yang akan berangkat haji.

”Ya saya besok ke rumahmu. Tapi dijemput ya?”. Kemenakannya menjawabnya dengan mengangguk.”Siap Nek!” sembari berdiri tegak dengan gata memberi hormat ala tentara kepada neneknya.

”Kamu ini. Orang tua kok dijadikan ledekan.. Kenapa dulu tidak jadi tentara atau pegawai negeri saja seperti kakekmu…Ingat pegawai negeri dan juga haji,” ujar sang Nenek. Sang cucu hanya bisa ‘nyengir kuda’. Sesaat kemudian dia mengucapkan salam sembari mencium tangan sang Nenek untuk meminta pulang.

”Hati-hati di jalan jangan ngebut. Nenek tahu dalam seminggu kau sudah dua kali nyungsep naik motor. Jangan berlagak jagoan kayak geng motor,” nasihat Nenek Toer.

Selepas itu, hngga menjeleng sore hujan turun dengan lebatnya. Cuaca agak gelap menyelemuti ruangan tengah rumah. Meski begitu di dalam suasana kamar yang remang-remang,  Nenek Toer tetap semangat membongkar isi almari pakaian.

Dia ingin mencari sepotong sajadah berwarna kuning kemasan yang sepuluh tahun silam dibelinya  sewaktu naik haji di Makkah. Ia tahu persis sajadah itu dibeli di toko Museum yang ada di mall hotel Zamzam, Makkah.

Tapi benda yang dicarinya tak kunjung ditemukan. Sajadah kuning yang terbuat dari serat Nanas yang halus dan wangi tak kunjung terlihat. Isi almari pun sudah diobrak-abrik dan di keluarkan. Namun, benda yang dicarinya tetap hilang.

Padahal benda yang dahulu dibeli 30 real sangat disayanginya. ”Warni di mana sajadah kuningku…?” tanya Nenek Toer dengan suara keras kepada pembantu rumahnya. Warni yang saat itu berada di dapur segera menemuniya. Dia kaget bukan kepalang ketika melihat almari sudah dikosongkan serta seluruh isinya dikeluarkan. Ruangan tengah kini seperti kapal pecah.

”Di mana Warni..Sajadah kuningku di mana?” katanya ketika melihat ke datangan pembantunya. Warni  berusaha ikut membantu mencarinya. Tapi sajadah itu tak kunjung ditemukan.”Wah tak tahu Nek..Dulu Nenek simpan di mana,” jawabnya.

Mendengar jawaban itu Nenek Toer makin panik. Sajadah yang dalam beberapa tahun terakhir selalu menemaninya, khususnya ketika shalat tarawih selama Ramadhan,  menghilang tanpa jejak.

”Sudahlah Nek jangan terlalu sedih.Besok ketika datang ke walimatul safar orang naik haji, Nenek nitip uang  saja ke dia agar bisa belikan lagi sajadah sama yang baru,”  saran Warni. Nenek menangguk setuju. Dia pun berencana menitipkan benda itu.”Aku dulu beli sajadah itu Makkah. Pasti masih dijual barang itu,” sahutnya sembari bergumam.

Maka benar saja, ke esokan paginya Nenek Toer begitu bersemangat berangkat ke rumah kemenekannya. Di sana sudah berkumpul banyak orang. Acara itu pun berlangsung meriah. Dua kambing dipotong.  Aneka kue panganan disiapkan. Serombongan ibu-ibu pengajian yang akan meramaikan acara dengan melantunkan shalawat dan rebana sudah datang. Acara pesta selamatan orang naik haji  benar-benar tak beda dengan acara pernikahan.

Seusai acara tanpa basa-basi Nenek Toer segera menemui kemenakannya. Dia pun menitipkan uang sebanyak 30 real kepada sang kemenakan agar membelikan sajadah berwarna kuning dan wangi yang dijual di pertokoan mall Zamzam Tower Makkah.

”Jangan lupa itu. Sajadah di jual di sana. Kiosnya bernama Museum. Milik orang Mesir,” katanya kembali mengingatkan. Kemenekaannya pun menangguk menyetujuinya.

Dan sekitar dua bulan ke depan, yakni ketika sang kemenakan pulang haji, dia segera datang menemuinya. Kini wajah Nenek Toer makin berseri ketika melihat kemenakannya sudah ‘resmi’ menjadi haji. Dia bangga bukan kepalang ketika melihat peci putih bertengger di atas kepalanya.
”Tapi ngomong-ngomong mana pesanan saya,” katanya. Sang kemenakan hanya tersenyum menjawabnya.”Beres..Ini sudah saya siapkan,” sahut sang kemenakan sembari menaruh sebuah bungkusan di depannya.

Segera saja Nenek Toer membuka bungkusan itu. Di depannya terhampar sebuah sajadah berwarna kuning kemasan yang beraroma harum.”Ini pasti harganya lebih mahal dari 30 real. Soalnya di Arab kan tak ada inflasi,” katanya.

Sang kemenakan hanya bisa menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Dia paham apa yang ada di benak sang nenek mengenai Makkah dan komplkes Masjidil Haram sepuluh tahun lalu ketika dia naik haji, pasti sudah banyak berubah. Mall di Zamzam Tower baru saja digunakan sebagai pengalihan tempat belanja yang oleh orang Indonesia disebut sebaai Pasar Seng.

Bukan hanya itu, bahu jalan serta perbukitan yang dahulu masih menghiasi area sekitar Masjidil Haram juga belum dibongkar. Area temat hotel ‘kelas murah’ yang dahulu berjejalan di sekitar ruas jalan menuju Misfalah juga sudah rata dengan tanah dan lahannya kini menjadi sebuah area halaman Masjidil Haram.

”Nek kios Musseumnya masih ada lho,” kata sang keponakan.

”Oh begitu..tapi di Pasar Mall ada yang jualan akik tidak. Soalnya dulu kakekmu beli akik di sana,” tanya dia.

Kemenakannya segera menjawabnya: ”Ya jelas ada yang jualan akik. Tapi harganya sekarang lebih mahal dari pada akik yang dijual di Indonesia.”

Nenek Toer mengangguk-angguk. ”Kalau begitu Masjidil Haram sudah berubah ya..” jawabnya lirih. Setelah itu, sajadah yang dibelikan kemenakannya dari ‘Pasar Mall’ Masjidil Haram segera diraihnya.
Tak sadar matanya kemudian berkaca-kaca. Masjidil Haram, keriuhan ibadah haji, dan suasana khusyuk di Masjid Nabawi berkelebat-lebat kembali di pelupk matanya. Sajadah berwarna kuning keemasan seharga 30 real kini mengngatkannya kembali betapa pergi haji adalah hal yang sangat mengesankan.

Ditulis Oleh : Muhammad Subarkah

Sumber

(Visited 41 times, 1 visits today)
Loading...