Afi Nihaya Faradisa. Sumber : BBC

Terungkap.. Jejak Fakta Plagiarisme Afi Nihaya Faradisa

Posted on

Kalimat demi kalimat yang “katanya” ditulis dan diunggah oleh Afi Nihaya Faradisa terbilang cukup baik dan bagus. Namun siapa yang menyangka ternyata kalimat-kalimat tersebut merupakan plagiat.

“Dengan pistol kita bisa membunuh teroris, tapi dengan pemahaman agama yang baik kita bisa membunuh terorisme.”

Kalimat itu merupakan kalimat penutup tulisan terbaru Afi tentang belas kasih yang diunggah pada 25 Mei lalu.

Pringadi Abdi Surya, dalam postingannya pada kompasiana memberi tanggapan, berikut tanggapannya.

Saya terusik dengan kalimat tersebut karena pernah merasa membaca yang serupa. Setelah otak-atik di berbagai aplikasi plagiarisme, saya baru ingat, kalimat itu pernah diucapkan Malala, anak muda yang meraih nobel karena perjuangannya di bidang pendidikan. “With guns, you can kill terrorists. With education, you can kill terrorisme.” Kurang lebih berarti, dengan senjata kalian bisa membunuh teroris, dengan pendidikan kalian bisa membasmi terorisme.

Kegelisahan saya ternyata dialami juga beberapa orang di beranda pertemanan saya. Perbincangan seru terjadi di laman Nuruddin Asyhadie, seorang kritikus sastra yang memang sangat tegas pada teks. Di statusnya, ia berusaha memancing diskusi, apakah teks yang ditulis Afi benar-benar layak dibilang jenius, logikanya pas, dan sejenisnya. Namun, perbincangan itu menguak hal lain, yakni dugaan plagiarisme yang dilakukan Afi.

Tulisan Afi mengenai belas kasih ini bisa dibilang sama persis dengan tulisan Mita Handayani yang diunggah ke Facebook pada 30 Juni 2016. Bahkan status-status Afi yang lain, seperti soal warisan, ditengarai memiliki ruh yang sama dengan narasi sebuah video viral yang juga diterjemahkan oleh Mita.

tangkapan layar facebook Afi dan Agama Kasih

Dari perbandingan di atas, yang berbeda hanyalah judul, tanda baca, dan enjambemennnya/ pemenggalannya, bukan?

Namun, kita tahu bahwa bukan hanya chat via Whatsapp yang bisa dipalsukan dengan aplikasi. Status Facebook pun bisa, apalagi gambar di atas kurang meyakinkan. Lalu, alam mempertemukan saya dengan seseorang yang memiliki screenshoot lebih lengkap atas tulisan Mita Handayani.

Sumber: WA Screenshoot FB
Sumber: WA Screenshoot FB
Sumber: WA Screenshoot FB
Sumber: WA Screenshoot FB

Dari versi lengkap tersebut, bila kita bandingkan dengan tulisan Afi di sini akan kita temukan perbedaan lain, yakni tambahan 3 paragraf pada tulisan Afi, yang paragraf terakhir (namun hanya satu kalimat) adalah saduran kalimat yang diucapkan Malala.

Ketika saya buka Unplag, dan plagiarisme checker lainnya, awalnya saya berasumsi Afi hanya melakukan parafrase yang ilegal, cara mengutip yang keliru karena tidak tahu bagaimana seharusnya memperlakukan pendapat orang lain di dalam tulisan kita sendiri. Kasus-kasus plagiat memang banyak terjadi, bahkan oleh penulis dan akademisi yang sudah punya nama.

Di status terbarunya, Mita malah mendefinisikan dirinya sebagai “I’m a proud senior” karena Afi menjadi momentum yang menyebarkan pemikirannya. Biarlah saya tidak dikenal, tapi pemikiran saya dibaca dan dipahami oleh banyak orang. Mungkin seperti itu.

Saya tidak sempat berpikir sejauh itu, dan saya masih berharap tulisan yang saya tulis ini salah. Afi bukanlah seorang plagiat, dan dia memang bisa menulis. Saya terjebak di antara dua pertanyaan, apakah saya akan menjatuhkan sesuatu hingga pecah ataukah saya akan menumbuhkan sesuatu yang seharusnya belum pantas tumbuh?

(Visited 36 times, 1 visits today)
Loading...